Tepat lima bulan di Jakarta, aku punya satu tempat favorit.
Saeporsi Steakkemenangan—begitu aku menyebutnya.
Empat bulan lalu, aku terlalu sering makan di sana sepulang kerja.
Selalu sendiri.
Karena aku tahu, orang lain pasti akan bosan jika harus makan hal yang sama, terlalu sering.
Sampai pada suatu waktu, untuk ketiga kalinya aku menyadari sesuatu.
Ada seorang pria muda.
Selalu hadir di tempat yang sama.
Di jam yang sama.
Dan itu terus berulang.
Entah sudah berapa kali.
Suatu hari, ia akhirnya menghampiriku.
Meminta nomor WhatsApp-ku.
Saat itu aku bahkan tidak sedang makan di sana, dan jujur saja, penampilanku sangat “tidak niat”.
“Kak, boleh minta nomor WA-nya?”
Tanpa banyak berpikir, aku langsung mengetikkannya di ponselnya.
Tidak banyak kalimat keluar dari mulutku.
Rasanya aneh—seperti sudah mengenalnya.
Mungkin karena kami terlalu sering saling melihat.
Seperti yang kuduga, ia langsung menghubungiku.
Saat aku bahkan belum membuka makananku.
Perkenalan biasa.
Beberapa lelucon kecil.
Percakapan yang terasa seperti fase PDKT pada umumnya.
Dan entah kenapa, rasanya sudah terlalu familiar.
Bahkan sedikit melelahkan.
Ia ingin terus berbicara.
Sering memaksa untuk menelepon.
Bahkan ingin telepon itu tetap menyala seharian.
Padahal ia tahu aku sibuk.
Dan jujur saja, aku tidak terlalu nyaman.
Semua terasa terlalu cepat.
Dia juga terlalu muda.
Sering kali ia memintaku mengajari hal-hal yang seharusnya sudah ia pahami sendiri.
Untuk kesekian kalinya, aku menyerah Lagi).
Komentar
Posting Komentar