Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026
Tepat lima bulan di Jakarta, aku punya satu tempat favorit. Saeporsi Steakkemenangan—begitu aku menyebutnya. Empat bulan lalu, aku terlalu sering makan di sana sepulang kerja. Selalu sendiri. Karena aku tahu, orang lain pasti akan bosan jika harus makan hal yang sama, terlalu sering. Sampai pada suatu waktu, untuk ketiga kalinya aku menyadari sesuatu. Ada seorang pria muda. Selalu hadir di tempat yang sama. Di jam yang sama. Dan itu terus berulang. Entah sudah berapa kali. Suatu hari, ia akhirnya menghampiriku. Meminta nomor WhatsApp-ku. Saat itu aku bahkan tidak sedang makan di sana, dan jujur saja, penampilanku sangat “tidak niat”. “Kak, boleh minta nomor WA-nya?” Tanpa banyak berpikir, aku langsung mengetikkannya di ponselnya. Tidak banyak kalimat keluar dari mulutku. Rasanya aneh—seperti sudah mengenalnya. Mungkin karena kami terlalu sering saling melihat. Seperti yang kuduga, ia langsung menghubungiku. Saat aku bahkan belum membuka makananku. Perkenalan biasa....
  Akhirnya, aku mengundurkan diri dari hal-hal yang membuat aku mempertanyakan kelayakan diri sendiri Sadar betapa bodohnya aku dulu, melakukan banyak hal, yang bahkan tidak pernah mau ada di pihak ku Sejak aku memutuskan untuk berserah, aku sempat kehilangan diriku sendiri, mengorbankan waktu untuk mengingat detail detail kesakitan itu, yang lukanya sampai saat ini dan nanti. Yang paling lucu dari cerita ini adalah bahwa trauma terberat datang dari orang yang bahkan tidak pernah terbayangkan, yang hanya bisa kuceritakan pada diriku sendiri, karena tidak ada dibayanganku untuk memperburuknya dihadapan siapapun. Salah satu manusia yang dengan sukarela kuberitahu apa yang menghancurkan, bahkan ikut menghancurkanku juga. dan yang paling jahat dari cerita ini juga, bahwa sampai kapanpun, dirinya tidak akan pernah merasa bersalah, kehilangan dan mungkin aku tidak akan pernah menerima permintaan maaf yang sedari selalu aku inginkan hanya untuk membuktikan bahwa tidak ada kesalahan. Kadan...